Anak Muda Ogah Punya Anak, Negara Ini Kewalahan Menghadapi Krisis Sex !

Anak Muda Ogah Punya Anak, Negara Ini Kewalahan Menghadapi Krisis Sex !

MSS News – Beberapa negara ini sedang menghadapi masalah warga negara mereka yang mulai malas untuk memiliki anak, hal ini sering disebut dengan istilah krisis sex.

Krisis sex mengacu pada kemerosotan hubungan seks yang bedampak pada rendahnya keinginan untuk memiliki anak dalam sebuah keluarga. Tak hanya itu, keinginan menikah pun sejatinya bakal surut di tengah resesi seks tersebut.

Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh seorang peneliti bernama Kate Julian, yang seorang editor juga peniliti di majalah The Atlantic. Dia mengutip penelitian tentang kehidupan seks orang Amerika yang dilakukan oleh Jean M. Twenge, seorang profesor psikologi di San Diego State University.

Menurut studi McKinsey & Company, ciri yang menentukan dari krisis seks adalah aspek dalam lonely economy, yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup sendiri.

Berikut negara yang sedang mengalami krisis tersebut :

Amerika Serikat (AS)

Selama bertahun-tahun, jumlah pasangan rumah tangga di Amerika terus menurun. Rata-rata jumlah orang dalam satu rumah tangga pada tahun 1960 adalah 3,33. Pada 2021, angka itu turun menjadi hanya 2,51 orang.

Ini dapat berdampak pada banyak aspek kehidupan lainnya, seperti real estat (membeli rumah) atau mobil (membeli otomotif) yang mana menjadi salah satu sumber utama keuangan negara itu.

China

Penurunan angka kelahiran di negara ini tidak memiliki penyebab yang jelas. Diperkirakan, keengganan untuk menikah dan memiliki anak dilatarbelakangi oleh kurangnya waktu untuk mengurus keluarga.

Oktober lalu, Liga Pemuda Partai Komunis China menerbitkan sebuah laporan yang menunjukkan bahwa hampir setengah dari wanita muda di daerah perkotaan enggan untuk menikah.

Jepang

Menurut Reuters, 811.604 bayi lahir di Jepang tahun lalu. Ini adalah angka terendah sejak 1899.

Jepang adalah salah satu negara dengan penuaan tercepat di dunia. Tokyo mulai mengandalkan tenaga kerja asing karena angka kelahiran menurun.

Korea Selatan

Di Korsel, fenomena resesi seks makin banyak dilakukan pasca munculnya sebuah kelompok feminis radikal yang mendukung hal tersebut. Kelompok itu bernama bernama ‘4B’ atau ‘Four No’s’.

Kelompok tersebut berisikan kumpulan wanita yang menolak sistem sosial patriarki yang kaku dan bersumpah untuk tidak menikah, punya anak, atau bahkan berkencan dan berhubungan seks.

Sementara itu, jumlah pasangan yang menikah merosot menjadi 257.600 pasangan saja, turun dari 434.900 pernikahan pada tahun 1996. Akibat hal ini, Korsel terancam menghadapi bencana demografis yang membumbung tinggi.

Singapura

Berdasarkan data yang dirilis pada 2021, hanya ada 19.430 pernikahan yang terjadi antar warga Singapura pada 2020

Jumlah ini menurun 12,3% dari 22.165 pernikahan pada tahun sebelumnya.

Perkawinan yang jarang dilakukan warga Singapura membuat negara itu mengalami tingkat kelahiran rendah.

Kondisi ini lantas membuat pemerintah melakukan sejumlah upaya guna menggenjot tingkat perkawinan di Negeri Singa. Salah satunya dengan menawarkan insentif uang tunai ‘bonus bayi’ untuk menambah semangat warga negara tersebut memiliki anak.

Rusia

Indikasi resesi seks di Rusia terlihat dari krisis populasi yang tengah terjadi. Hal itu akhirnya membuat Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan perintah baru. Dia menghidupkan kembali penghargaan “Mother Heroine” era Uni Soviet untuk mengatasi krisis populasi yang sedang melanda negaranya saat ini.

Mother Heroine ditunjukkan untuk wanita yang memiliki lebih dari 10 anak. Tujuannya adalah dalam rangka meringankan krisis demografis Rusia.

Itulah rangkuman yang kami himpun dari berbagai sumber.

Leave a Reply

%d bloggers like this: